STKIP ARRAHMANIYAH

Belajar Menyenangkan dengan iLearning

By

Dashboard Nilai Mahasiswa

By

Cara Mengatasi Anak Yang Nilaninya Anjlok

 

Cara Mengatasi Anak Yang Nilaninya Anjlok

Usia sekolah memang menjadi fase bagi anak mulai tumbuh jiwa-jiwa kompetitif dan kebutuhan untuk diakui oleh orang lain. arena itu, nilai sekolah adalah hal penting bagi anak untuk bisa mengukur diri dan kemampuannya. Jika dalam hal ini mereka tidak mendapatkan nilai bagus, maka peran orang tua dan guru di sekolah harus mulai berperan aktif.

berusaha, harus bersabar, dan harus mau belajar dari kesalahan-kesalahan sebelumnya demi nilai yang dia inginkan membentuk angka yang diharapkan. Masalah anak dengan nilai turun di sekolah selalu menjadi masalah bagi orang tuanya. Para orang tua cenderung menyalahkan si anak dengan nilai yang jelek tersebut seakan semua hal tersebut dari kelalaian si anak. Bahkan juga obsesi orang tua yang terlalu berlebihan menginginkan nilai anaknya tinggi dapat pula menjadi masalah.

Perubahan nilai anak yang biasa kita pandang dalam sebuah rangkuman rapor ini memang harus ada umpan balik disetiap hasilnya. Pilihannya adalah mempertahankan, atau menaikkan nilai. Seorang anak yang nilainya turun di sekolah secara terus menerus ini tentunya memerlukan perhatian khusus dari orang tua agar mereka termotivasi untuk mengembalikan semangat belajar mereka.

Perlu dipahami oleh para orang tua, ketika si anak nilainya terus menerus turun, maka hal-hal berikut ini mungkin saja menjadi penyebab keadaan yang demikian, mari kita simak:

  1. Masalah Kesehatan

Masalah kesehatan memang menjadi sangat wajar ketika si anak mulai merasakan penurunan dari sisi nilai sekolahnya. Keadaan seorang anak memang memperngaruhi seluruhnya, seperti contoh mempengaruhi keaktifan di kelas, mempengaruhi pemahaman materi di kelas, mempengaruhi ketepatan mengerjakan pekerjaan rumah, bahkan mempengaruhi saat mereka sedang ujian di semesternya. Tidak harus tertuju pada kesehatan anak dengan penyakit seperti demam berdarah, hipotiroid, penyakit jantung, atau lain sebagainya. Keadaan kesehatan yang mengganggu yang bernotaben sederhanapun mampu mengganggu mereka di sekolah, misal batuk, pilek, demam, sakit kepala, sakit perut, dll.

  1. Masalah Keluarga

Penyebab ini merupakan penyebab yang berefek bukan hanya pada anak di sekolah tetapi pada semua orang dengan pekerjaannya. Masalah keluarga adalah hal paling rumit yang selalu ada disetiap pikiran kita. Bagaimana kita secara pribadi bisa begitu tenang kalu sehari-hari ada-ada saja masalah keluarga yang selalu muncul dan menjadikan rumit setiap waktunya. Masalah keluarga yang tidak ingin dipikirkan oleh anak-anak adalah misalnya pertengkaran kedua orang tua, perceraian, fitnah, perselingkuhan, hingga pada masalah harta. Para orang tua yang marah ketika nilai anaknya turun, seharusnya ia malu pada diri sendiri. Mereka tentu saja terpengaruh dengan keadaan orang tua yang memiliki masalah hingga terdengar di telinga anaknya. Selesaikan dulu masalahnya dan berikanlah pengertian pada anak-ya bagaimana seharusnya mereka bersikap dalam situasi yang demikian.

  1. Dukungan Belajar Minimal

Dukungan belajar yang dimaksud sebagai penyebab adalah bukan hanya dukungan dari sisi perhatian orang tua namun juga pada sisi peralatan serta kelegkapan belajar untuk anak-anak. Kelengkapan seperti buku materi, buku referensi, hingga pada buku untuk menguji apa yang sudah mereka pelajari, merupakan bagian penting untuk mengambil alih hasil belajar mereka baik di rumah maupun di sekolah agar lebih maksimal. Fasilitas yang mereka dapatkan seperti itu diharapkan mampu didukung penuh oleh orang tua untuk menunjang pembelajaran anaknya agar lebih mantap melangkah menaikkan nilai sekolahnya.

  1. Tekanan Orang Tua

Lagi-lagi istilah “memaksa” itu tidaklah baik dilakukan. Orang tua yang terlalu terobsesi nilai anaknya yang sempurna ini biasanya lebih menekankan agar anaknya memaksimalkan diri agar nilainya bagus disekolah. Padalah tekanan yang smacam ini justru akan membuat anak akan merasa takut melakukan sesuatu/takut salah. Obsesi orang tua yang berlebihan tersebut dapat membuat anak menjadi stress memikirkan apa yang harus dilakukan. Orang tua yang baik, meskipun mengharapkan nilai anaknya bagus namun tidak ia lakukan dengan cara yang memaksa dengan penuh tekanan. Bagaimanapun mereka harus diberikan perhatikan secara bertahap dan penuh sabar demi menaikkan kembali nilai mereka yang turun itu.

Jika ternyata di dalam proses mendapatkan nilai tersebut orang tua tidak mendukung, harus bisa dilihat apakah kegagalan sebuah nilai anak berasal dari orang tua atau gurunya. Karenanya, orang tua juga harus tahu prosesnya kenapa anak mengalami nilai yang menurun.

“Saat penerimaan rapor nilai sekolah yang bagus merupakan hal yang ditunggu. Namun jika anak mendapatkan nilai yang jelek, jangan keburu menyalahkan si anak, apalagi sampai mengercilkan hatinya. Sebaliknya, menjalin komunikasi yang baik serta memberi penghargaan ternyata bisa memotivasi anak agar lebih giat belajar.”

Jikalau nilai sekolah anak mengalami penurunan, saat seperti inilah orang tua harus bisa memakluminya, berilah pengertian yang bisa dimengerti oleh anak. Pada dasarnya, dalam proses penurunan nilai anak juga dipengaruhi oleh orang tua dan guru. Ketika nilai yang didapat anak mengalami penurunan, sebenarnya ada beberapa faktor yang mempengaruhi hasil tersebut.

Anak dan Ortu

Saat nilai anak menjadi menurun, orang tua jangan buru-buru menjatuhi hukuman. Orang tua lebih baik mencari tahu penyebab dan harus peka dengan apa yang menyebabkan nilai anak menjadi menurun. Pemahaman seperti ini sangatlah penting bagi orang tua agar dapat menentukan perlakuan apa yang harusnya dilakukan. Sekolah juga menjadi salah satu faktor dalam membentuk diri anak. Sebab hubungan teman dan guru terdekat anak selama ini dengan lingkungan sekolah. Tentunya hal ini yang paling berperan aktif dalam pembentukan karakter anak selain di rumah. Kerjasama dari ketiga orang ini sangatlah penting.

Komunikasi

Saat anak tidak menganggap bahwa nilai bagus menjadi sebuah kebutuhan, orang tua harus bisa menjelaskan bahwa dalam hal ini anak harus ada kebutuhan untuk berkompetirif. Namun jika anak menganggap nilai bagus menjadi hal yang sangat penting, orang tua harus memberi pengertian kepada anak. Sebab bisa saja proses tersebut disebabkan karena orang tua. Jangan sampai nilai buruk menjadikan anak tertekan, sedangkan orang tua penyebab anak mendapatkan nilai buruk. Yang terpenting dalam hal ini adalah komunikasi. Dengan berkomunikasi, anak akan bercerita dengan keadaannya ketika ia mendapatkan nilai yang jelek. Jika anak merasa malu atau menghindar dengan nilai yang didapat, mungkin saja ada konflik yang dialami anak bahwa ia tak nyaman dengan mendapatkan nilai itu. Untuk itu ketika anak sedang mengalami tekanan karena mendapatkan nilai buruk, orang tua harus terus memberikan semangat dan pengertian. Karena anak membutuhkan pendampingan dari orang tua.

Penghargaan

Ketika anak mendapatkan nilai buruk, orang tua juga bisa memberikan penghargaan kepada anak, gunanya adalah untuk memberikan semangat kembali kepada anak. Penghargaan sangat dibutuhkan oleh si anak, namun perlu diperhatikan pula, dalam memberikan penghargaan tidak harus selalu berupa barang dan materi yang berlebihan. Karena, anak akan berstimulasi dengan penghargaan tersebut. Tak apa-apa jika ortu memberikan penghargaan, namun harus ada komitmen antara ibu dan anak terhadap penghargaan tersebut. Bisa saja pemberian penghargaan yersebut bisa memperbaiki nilai anak, pokoknya asal jangan diberikan penghargaan yang berlebihan. Pemberian penghargaan sebaiknya berupa suatu hal yang bermakna kebersamaan, seperti memberikan pelukan, pujian atau ajakan berlibur bersama keluarga. Namun dengan catatan anak harus berjanji akan dapat memperbaiki nilai buruknya. Dengan begitu anak juga akan semakin dekat dengan orang tuanya.

Jadi menurut saya, nilai anak anjlok atau jelek bukanlah akhir dunia. Jangan memberi respon negatif yang justru menghancurkan semangat belajar anak. Dengarkan, berikan penghargaan  dan dukung anak agar mampu bangkit atau semakin semangat belajar. Lakukan refleksi agar anak mampu menemukan solusi sendiri. Semangat belajar yang berkobar untuk menjalankan solusinya sendiri yang akan membuat anak bangkit, semakin semangat belajar dan mencapai hasil yang lebih baik.

By

MENGATASI ANAK YANG MEMILIKI PRESTASI MENURUN

MENGATASI ANAK YANG MEMILIKI PRESTASI MENURUN

Orang tua ingin anak-anaknya tumbuh sehat,cerdas,dan berprestasi.Tidak mengherankan jika banyak orang tua yang memberi rangsangan yang begit banyak sampai melebihi kemampuan jadi jika prestasi anak menurun?apakah orang tua akan marah-marah?bahkan memberi hukuman yang berlebihan?

Berikut penjelasannya

Menurut Elly Risman Musa menilai bila prestasi anak menurun,jangan buru-buru menjatuhkan hukuman.lebih baik carilah penyebab buruknya prestasi anak. Apakah karena kemampuan membaca yang kurang atau karena kurang latihan?pada pelajaran matematika saja,bahasa dan ipa, atau pada seluruh mata pelajaran?pemahaman ini penting bagi orang tua dapat menemukan perlakuan apa yang harus ia lakukan.

Apabila nilai matematikanya buruk tetapi pelajaran yang lain nilainya bagus mungkin anak mengalami kesulitan matematika at  berhitunng(diskalkulia). Jika nilai matematikanya bagus tetapi pada pelajaran lain yang membutuhkan pemahaman bahasa atau membaca buruk bahkan anak sering salah membaca, mungkin dia mengalami kesulitan membaca(disleksia).

Untuk menentukan apakah anak mengalami salah satu dari kesulitan itu perlu di lihat juga konsistensi kesalahan dan hasil kerjanya.untuk memastikan, perlu mmbawa anak ke psikolog. Kemungkinan lain yang dapat menjadi buruknya nilai anak apakah karena daya ingat anak yang kurang atau karena anak tidak di latih untuk menghafal pelajaran yang sudah di dapat di sekolah.

Orang tua, perlu membantu anak mengingat kembali informasi yang pernah masuk ke dalam system ingatannya dengan membaca kembali pelajaran yang baru di berikan oleh guru atau menanyakan materi yang baru di perolehnya dengan melakukan tanya jawab. Berbagai strategi menguatkan ingatan dapet di lakukan misalnya, dengan meminta anak mengerjakan soal-soal latihan yang ada di buku sehingga ketika ulangan ia sudah memiliki jawaban yang benar atau ibu dapat membeli buku bank soal di toko buku.latih anak dengan contoh-contoh dengan hal yang serupa agar pemahaman pada bab yang sedang di pelajari menjadi baik.

Tindakan memarahi hanya akan memperburuk kondisi anak. Perasaan sedih karna di marahi akan memengaruhi konsentrasi. Dia akan tumbuh menjadi anak yang pemurung dan memiliki konsep diri yang negatif konsekuensinya dia akan sulit memahami pelajaran berikutnya.nilainya akan buruk dan ibu akan kembali memarahinya pada akhirnya anak tidak menjadi bersemangat ke sekolah dan nilainya terus menurun. Hal lain yang perlu di benahi adalah disiplin belajar anak.tentukan waktu belajar yang di sepakati oleh anak. Temanai anak belajar dan berikan penguatan makanan ringan/susu. Ciptakan suasana belajar yang menyenangkan.atur pencahayaan yang baik. Tidak ada anak lain/anggota lain yang menonton TV pada saat belajar,terutama pada anak yang rentang perhatiannya pendek. Hindari anak pada aktifitas yang menguras energinya seperti berlari-lari dan menonton TV.dapat menjadi penyebab kesulitn belajar pada anak.

Perhatian dan kasih sayang orang tua dapat membantu meningkatkan prestasi anak. Anak yang merasa kesepian atau merasa di abaikan akan tumbuh menjadi anak pemurung dan tidak berprestasi di sekolah. Ia hanya akan melakukan hal-hal yang dapat menarik perhatian orang tuanya dengan cara yang salah, misalkan dengan nilai buruk, sehingga orang tuanya kaget dan meluangkan waktu untuk menemaninya belajar.ujar Elly Risma Musa

Dalam hal lain terdapat pula dua faktor  yang menyebabkan turunnya prestasi anak, yakni faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal merupakan hal-hal yang berasal dari diri anak itu sendiri, seperti sedang sakit atau kurang istirahat.

Sedangkan faktor ekternal adalah hal-hal yang di luar kendali sang anak, seperi lingkungan di sekitar baik itu di sekolah maupun di rumah.

Sebagai orng tua yang baik, anda tidak boleh membebani anak dengan menuntutnya agar selalu

Berikut ini bebrapa hal yang bisa mempengaruhi psikologi anak dalam ,menerima pelajaraan di sekolah

1.intelegensi

Intelegensi atau kemampuan anak dalam menerima dan memproses pelajaran mempengaruhi tinggi rendahnya potensi mereka dalam memperoleh prestasi di sekolah.

2.MOTIVASI BELAJAR

Motivasi yang paling efektif yang sering di berikan orang tua adalah memberikan reward apabila sang anak mendapatkan prestasi.

3.PERASAAN,SIKAP DAN MINAT

Mengetahui dan memahami perasaan, sikap serta minat anak merupakan tugas orang tua. Dalam hal ini, orang tua harus mempertimbangkan perasaan anak ketika memaksa kehendak, terutama yang tidak sesuai dengan minat anak tersebut.

4.KESEHATAN

Kondisi kesehatan yang sangat mempengaruhi potensi mereka di sekolah, maka perhatikan kondisi kesehatan dan makan pada anak,kesehat yang buruk dapat menyebabkan konsentrasi anak berkurang.

5.LINGKUNGAN SEKITAR

Apabila anak anda bergabung dengan lingkungan para anak yang malas belajar, kemungkinan akan ikut tertular. Sebab,lingkungan sekitar salah satu pengaruh terbesar bagi baik tidaknya prestasi belajar.

CARA MENGATASI PENURUNAN PRESTASI PADA ANAK,MENURUT KAK SETO

1.INTROPEKSI DIRI

Dalam proses belajar mengajar di sekolah, pola pendidikan yang di terapkan selama ini cenderung lebih menekankan pada kecerdasan otak,sementara kecerdasan spiritual kurang mendapat perhatian.cara yang bisa di lakukan adalah dengan melakukan intropksi, tidak hanya di dunia pendidikan tapi juga lingkungan keluarga yang memiliki peran penting dalam membentuk karakter anak.

2.PERHATIKAN ANAK

Coba untuk lebih sering mengamati anak,mendengarkan obrolan,dan berdialog dengan mendampingi anak saat membuat PR.

3.EMPATI DAN MENCARI PENYEBAB

Ada baiknya tunjukan sikap empati pada anak,dan untuk memperbaiki prestasinya lebih dahulu telusuri penyebabnya.

4.DISKUSIKAN DENGAN GURU

Sering-seringlah berdiskusi dengan guru,barangkali saja, metode mengajar guru jug perlu di ubah agar anak terangsang untuk belajar.

KESIMPILAN

Pada saat anak mengalami penurunan prestasi dalam sekolah,menurut saya ada baiknya sebagai orang tua,lebih memperhatikan kendala yang di hadapi anak dalam belajar,mendampingi di setiap proses pembelajaran di rumah,salah satu cara mengetahui kesulitan anak dalam mata pelajaran, memarahi bukan solusi yang tepat,malah akan menambah efek  buruk terhadap kehidupannya kelak,berilah kasih sayang yang di butuhkan di saat anak terpuruk dan kecewa dalam mendapatkan hasil yang belum memuaskan,karna pada hakikatnya anak adalah titipan ilahi yang harus di jaga apapun keadaanya.

Sekian&terimakasih

mulyani

By

MENGATASI ANAK YANG NILAINYA ANJLOK

ARTIKEL

MENGATASI ANAK YANG NILAINYA ANJLOK

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas

Mata Kuliah Psikologi Pendidikan

Dosen : Naura Fitriawati

Disusun Oleh :

Een Nuraida

NIM 146110088

Prodi Pendidikan Kewarga Negaraan (PKn)

Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan

STKIP ARRAHMANIYAH

DEPOK

2016

  • Penyebab Turunnya Prestasi Anak

Perlu dipahami oleh para orang tua, ketika si anak nilainya terus menerus turun, maka hal-hal berikut ini mungkin saja menjadi penyebab keadaan yang demikian, diantaranya adalah :

  1. Masalah Kesehatan

Masalah kesehatan memang menjadi sangat wajar ketika si anak mulai merasakan penurunan dari sisi nilai sekolahnya. Keadaan seorang anak memang memperngaruhi seluruhnya, seperti contoh mempengaruhi keaktifan di kelas, mempengaruhi pemahaman materi di kelas, mempengaruhi ketepatan mengerjakan pekerjaan rumah, bahkan mempengaruhi saat mereka sedang ujian di semesternya.

Tidak harus tertuju pada kesehatan anak dengan penyakit seperti demam berdarah, hipotiroid, penyakit jantung, atau lain sebagainya. Keadaan kesehatan yang mengganggu yang bernotaben sederhanapun mampu mengganggu mereka di sekolah, misal batuk, pilek, demam, sakit kepala, sakit perut, dll.

  1. Masalah Keluarga

Penyebab ini merupakan penyebab yang berefek bukan hanya pada anak di sekolah tetapi pada semua orang dengan pekerjaannya. Masalah keluarga adalah hal paling rumit yang selalu ada disetiap pikiran kita. Bagaimana kita secara pribadi bisa begitu tenang kalu sehari-hari ada-ada saja masalah keluarga yang selalu muncul dan menjadikan rumit setiap waktunya. Masalah keluarga yang tidak ingin dipikirkan oleh anak-anak adalah misalnya pertengkaran kedua orang tua, perceraian, fitnah, perselingkuhan, hingga pada masalah harta.

Para orang tua yang marah ketika nilai anaknya turun, seharusnya ia malu pada diri sendiri. Mereka tentu saja terpengaruh dengan keadaan orang tua yang memiliki masalah hingga terdengar di telinga anaknya. Selesaikan dulu masalahnya dan berikanlah pengertian pada anak-ya bagaimana seharusnya mereka bersikap dalam situasi yang demikian.

  1. Masalah Percintaan

Masalah seperti ini biasanya sering dialami oleh anak-anak remaja. Orang tua yang memiliki anak remaja seperti ini harusnya lebih bersabar sedikit bila nilainya turun gara-gara masalah percintaan seperti putus cinta, galau, atau keadaan-keadaan yang lain yang dapat membuat si anak menjadi enggan untuk belajar.

Para orang tua setidaknya memiliki strategi khusus menghadapi masalah semacam ini. Anak-anak mereka harus dipantau ekstra ketat ketika mereka memiliki seorang pacar sekalipun. Pacar memang jelas membuat mereka berubah secara drastis tidak seperti yang biasanya. Keadaan yang seperti ini harus disikapi secara baik-baik oleh orang tua dengan cara memberikan peringatan sesering mungkin untuk anaknya agar mereka tidak melupakan tujuan utama mereka yaitu sekolah.

  1. Dukungan Belajar Minimal

Dukungan belajar yang dimaksud sebagai penyebab adalah bukan hanya dukungan dari sisi perhatian orang tua namun juga pada sisi peralatan serta kelegkapan belajar untuk anak-anak. Kelengkapan seperti buku materi, buku referensi, hingga pada buku untuk menguji apa yang sudah mereka pelajari, merupakan bagian penting untuk mengambil alih hasil belajar mereka baik di rumah maupun di sekolah agar lebih maksimal. Fasilitas yang mereka dapatkan seperti itu diharapkan mampu didukung penuh oleh orang tua untuk menunjang pembelajaran anaknya agar lebih mantap melangkah menaikkan nilai sekolahnya.

  1. Tekanan Orang Tua

Lagi-lagi istilah “memaksa” itu tidaklah baik dilakukan. Orang tua yang terlalu terobsesi nilai anaknya yang sempurna ini biasanya lebih menekankan agar anaknya memaksimalkan diri agar nilainya bagus disekolah. Padalah tekanan yang smacam ini justru akan membuat anak akan merasa takut melakukan sesuatu/takut salah. Obsesi orang tua yang berlebihan tersebut dapat membuat anak menjadi stress memikirkan apa yang harus dilakukan.

Orang tua yang baik, meskipun mengharapkan nilai anaknya bagus namun tidak ia lakukan dengan cara yang memaksa dengan penuh tekanan. Bagaimanapun mereka harus diberikan perhatikan secara bertahap dan penuh sabar demi menaikkan kembali nilai mereka yang turun itu. (DA)

  • Sikap Bagi Orang Tua Jika Nilai Anak Tak Memuaskan

Usia sekolah memang menjadi fase bagi anak mulai tumbuh jiwa-jiwa kompetitif dan kebutuhan untuk diakui oleh orang lain. arena itu, nilai sekolah adalah hal penting bagi anak untuk bisa mengukur diri dan kemampuannya. Jika dalam hal ini mereka tidak mendapatkan nilai bagus, maka peran orang tua dan guru di sekolah harus mulai berperan aktif.

Jika ternyata di dalam proses mendapatkan nilai tersebut orang tua tidak mendukung, harus bisa dilihat apakah kegagalan sebuah nilai anak berasal dari orang tua atau gurunya. Karenanya, orang tua juga harus tahu prosesnya kenapa anak mengalami nilai yang menurun. Jikalau nilai sekolah anak mengalami penurunan, saat seperti inilah orang tua harus bisa memakluminya, berilah pengertian yang bisa dimengerti oleh anak.

Pada dasarnya, dalam proses penurunan nilai anak juga dipengaruhi oleh orang tua dan guru. Ketika nilai yang didapat anak mengalami penurunan, sebenarnya ada beberapa faktor yang mempengaruhi hasil tersebut.

Berikut tip dari Diana untuk para orang tua, jika hasil ujian si anak tak memuaskan:

  1. Tetap berikan apresiasi

Diana mengatakan, orang tua seharusnya tak pelit apresiasi, meski hasil ujian si anak tak sesuai dengan harapan mereka. Jika si anak sebelumnya sudah berupaya tekun belajar, orang tua sebaiknya memberi pemakluman pada hasil ujiannya. Salah satu caranya adalah mengatakan pada si anak bahwa ia sudah berusaha keras. Karena itu, hasil ujian buruk bukanlah petaka. Namun, jika sebelumnya si anak malas-malasan, hasil ujian yang buruk harus digunakan orang tua sebagai senjata memperbaiki proses belajar anak mereka.

  1. Ajari menerima kelemahan

Daripada meratapi hasil ujian sekolah yang buruk, lebih baik orang tua memotivasi dan mengajak anak berpikir positif. Tanamkan pengertian bahwa hasil ujian sekolah yang buruk bukanlah pertanda kebodohan atau kegagalan, agar kepercayaan diri anak tidak terkoyak.

  1. Lakukan tes IQ

Banyak sekolah selama ini melakukan tes kecerdasan intelektual kepada para siswa mereka. Namun, menurut Diana, anak perlu menjalani tes IQ lagi di luar sekolah, yang sifatnya personal. Bahkan sebaiknya tes IQ tersebut dijalani anak sebelum memilih sekolah. Tes IQ dianggap Diana penting agar orang tua bisa menentukan model pembelajaran yang tepat pada anak, dan tahu pada bidang mana saja anak mereka unggul. Dengan melihat hasil tes IQ, ujar Diana, kegagalan anak dalam mendapatkan nilai baik pun bisa diantisipasi orang tua.

  1. Kembangkan potensi di bidang tertentu
    Semakin tinggi nilai IQ, semakin spesifik juga bidang yang dikuasai seorang anak. Sayangnya, orang tua selama ini menuntut anak untuk sempurna hampir di semua bidang pelajaran. Mestinya, Diana menyarankan, orang tua berfokus mengembangkan potensi anak. Jika dari tes IQ dan ujian sekolah anak diketahui berbakat dalam bidang bahasa, misalnya, dukung dia mengembangkan diri pada bidang tersebut.
  2. Berikan hak anak
    Jangan mentang-mentang hasil ujian sekolah si anak buruk, orang tua serta-merta merampas hak putra-putri mereka. Bagaimana pun anak tetap butuh bermain agar bisa bergembira dengan rekan sebayanya. Apalagi bermain bisa membantu anak menepikan kesedihannya setelah mendapatkan hasil ujian yang kurang memuaskan.
  • Sharing Pengalaman dari Ibu Vivi Savitri Mendampingin Anak dalam Menghadapi Permasalahan di Bidang Akademik

Salam kenal untuk para Ayah dan Bunda…  

Kenali Dirimu, Sayang…

 

 

Sudah sejak awal Abi masuk SD, aku memutuskan untuk tidak membebaninya dengan target jadi juara di kelas. Alhamdulillah, selama 3 tahun (kelas 1 sampai kelas 3) tidak pernah ada masalah mengenai itu. Nilai -2nya cukup memuaskan.

 

 

Tapi, rupanya waktu berkata lain. Di awal kelas 4, nilai-2nya turun dengan drastis. Aku capek. Pelajarannya susah. Kebetulan gurunya juga punya aturan yg berbeda dibanding guru-2 sebelumnya. Gurunya yg sekarang memutuskan, ulangan baru diberikan ke orangtua setelah 3 bulan. Itulah awalnya…

 

 

Kami punya kebiasaan, setiap kali hasil ulangan diberikan guru, Abi menyerahkannya padaku. Lalu sama-2 kami melihat dimana yg salah, dimana yg kurang, nah di situlah ia membuat perbaikan pada buku belajarnya di rumah. Ulangan yang diberikan setelah 3 bulan berlalu, jelas membuatku lambat mengetahui dimana kekurangan Abi dalam memahami materi pelajarannya. Bayangkan, nilai yg biasanya menari-2 di angka 8 atau 9, merosot sampai ke bawah 5…!!!

 

 

Mau marah, percuma.. semua sudah berlalu. Tapi wajah kecewa, tidak kusembunyikan dari pandangannya. Membuang segala ego, aku ajak ia duduk bersama. Berdua kami membicarakannya.

 

 

“Ibu kecewa nih, Mas. Koq nilai-2nya seperti ini. Aku minta maaf. Kamu tau bagaimana pendapat Ibu tentang hal ini. Nilai di bawah 5 berarti kamu tidak belajar.” Berusaha berkelit, ia menjawab: “Ibu jangan hanya melihat ke atas, ke anak-2 yg nilainya lebih bagus. Lihat juga ke bawah, ke anak-2 yang mendapat nilai rendah. Aku masih mending, Bu. Ada temen yg dapat 1,5. Malah ada yg 0,5…”

 

 

Kutatap wajahnya.. Gak percaya kalimat tadi meluncur dari mulutnya. 

“Kenapa mereka bisa dapet nilai segitu?”. Tanyaku

“ Karena mereka suka ngobrol pas lagi belajar. Males juga anaknya…”, Jawabnya.

“Dan kamu merasa, Ibu akan bangga kamu membandingkan dirimu dgn mereka? “. Tangkisku.  Sudah akan menjawab, tapi ditahannya dalam mulut. Melihat wajahku yang mulai mengeras, dia merasa lebih aman bila diam.

 

 

“Selama ini Ibu gak pernah menuntutmu ada di atas panggung juara. Yg Ibu minta agar kamu dapat berdiri di atas tanah. Dengan gagah, tegak dada sebagai anak laki-2. Sekali-2 kamu dapat nilai 6, Ibu hanya pikir kamu sedang berjalan terlalu ke pinggir. Jadi Ibu ingatkan, hati-2 Mas. Belajar yg lebih baik lagi.”

 

 

“Sekarang, kamu sedang terperosok ke dalam lubang. Ayo, Ibu akan bantu kamu keluar dari lubang itu. Tapi kamu juga harus bantu diri kamu keluar dari sana. Jangan keenakan tidur di situ. Oke? Kalau kamu tidak setuju dengan cara ini, bilang dari sekarang. Jangan sampai Ibu lelah sendiri menarikmu, padahal kamu merasa nyaman di berkubang di dalamnya.”.

 

 

Dan mulailah, ia menjalani hari-2 dimana ia berusaha keluar dari lubangnya. 30 menit berlatih matematika, 30 menit berlatih memperbaiki tulisannya (salah satu penyebab nilainya mendapat jelek, karena tulisannya sulit dibaca). Ia kusuruh menulis tentang apa saja. IPA, IPS, peribahasa, cerita di majalah, buku, apa aja yg dia suka.

 

 

Proses yg lambat dan panjang. Adakalanya ia bosan. Di hadapannya terletak buku matematika, buku menulis, buku cerita, lego, tapi matanya menghadap ke layar televisi. Kalau lagi kendor seperti itu, aku biarkan dulu selama 1 hari. Esoknya kuajak tukar pikiran lagi.

 

 

“Ada anak yg diberi kelebihan oleh Tuhan, berupa otak yg pandai dimana ia mampu memikirkan segala macam hal di waktu yang bersamaan dan semuanya berhasil dengan baik dengan prestasi belajar yang juga baik.

Ada juga anak yg diberi kelebihan lain oleh Tuhan, berupa ketekunan. Dimana ia hanya mampu melakukan satu hal saja di satu waktu, tapi bila melakukannya dengan tekun ia akan berhasil dengan baik. Anak-2 yg seperti ini mungkin terlihat lambat karena ia menyelesaikan pekerjaannya satu per satu. Tapi hasil terakhir biasanya jauh lebih baik.

 

 

Luar biasanya, orang-2 yang berhasil adalah orang yang tekun dan sabar dalam menjalani pekerjaannya. Kenali dirimu, Sayang… Mas Abi termasuk dalam kelompok mana dengan kelebihan yang Tuhan kasih.”

 

 

Gaya belajarnya, langsung berubah. Ia mulai belajar memahami dan mengenali dirinya sendiri. Gaya belajarnya pun ia sesuaikan sendiri. Selama tidak aneh-2, aku tidak banyak berkomentar. Tugas seorang Ibu adalah seperti pemain layangan. Tetap memegang tali. Mengatur ke arah mana layangan akan diarahkan. Sesekali membiarkan layangan kendor untuk mencari ruang geraknya sendiri. Kalau telah melenceng terlalu jauh, kembali menarik tali agar layangan kembali dalam arah yang diinginkan.

 

 

Suatu kali, Abi mengeluarkan setumpuk kertas ulangan dari dalam tasnya. Ibu, lihat…! Anak Ibu udah mulai berdiri lagi di atas tanah. Nilai 7 dan 8 tertera di kelima lembar kertas tersebut. Aku rengkuh kepalanya dalam pelukan… 

 

By

Solusi Ketika Nilai Sekolah Anak Jeblok

 

Di susun oleh : Rizki Agustin RHB

Program studi :  PPKn

Solusi Ketika Nilai Sekolah Anak Jeblok

Usia sekolah memang menjadi fase bagi anak mulai tumbuh jiwa-jiwa kompetitif dan kebutuhan untuk diakui oleh orang lain. arena itu, nilai sekolah adalah hal penting bagi anak untuk bisa mengukur diri dan kemampuannya. Jika dalam hal ini mereka tidak mendapatkan nilai bagus, maka peran orang tua dan guru di sekolah harus mulai berperan aktif.

Jika ternyata di dalam proses mendapatkan nilai tersebut orang tua tidak mendukung, harus bisa dilihat apakah kegagalan sebuah nilai anak berasal dari orang tua atau gurunya. Karenanya, orang tua juga harus tahu prosesnya kenapa anak mengalami nilai yang menurun.

“Saat penerimaan rapor nilai sekolah yang bagus merupakan hal yang ditunggu. Namun jika anak mendapatkan nilai yang jelek, jangan keburu menyalahkan si anak ya, apalagi sampai mengercilkan hatinya. Sebaliknya, menjalin komunikasi yang baik serta memberi reward ternyata bisa memotivasi anak agar lebih giat belajar.”

Jikalau nilai sekolah anak mengalami penurunan, saat seperti inilah orang tua harus bisa memakluminya, berilah pengertian yang bisa dimengerti oleh anak.

Pada dasarnya, dalam proses penurunan nilai anak juga dipengaruhi oleh orang tua dan guru. Ketika nilai yang didapat anak mengalami penurunan, sebenarnya ada beberapa faktor yang mempengaruhi hasil tersebut.

Anak dan Orang tua

Saat nilai anak menjadi menurun, orang tua jangan buru-buru menjatuhi hukuman. Orang tua lebih baik mencari tahu penyebab dan harus peka dengan apa yang menyebabkan nilai anak menjadi menurun. Pemahaman seperti ini sangatlah penting bagi orang tua agar dapat menentukan perlakuan apa yang harusnya dilakukan.

Sekolah juga menjadi salah satu faktor dalam membentuk diri anak. Sebab hubungan teman dan guru terdekat anak selama ini dengan lingkungan sekolah. Tentunya hal ini yang paling berperan aktif dalam pembentukan karakter anak selain di rumah. Kerjasama dari ketiga orang ini sangatlah penting.

Komunikasi

Saat anak tidak menganggap bahwa nilai bagus menjadi sebuah kebutuhan, orang tua harus bisa menjelaskan bahwa dalam hal ini anak harus ada kebutuhan untuk berkompetirif. Namun jika anak menganggap nilai bagus menjadi hal yang sangat penting, orang tua harus memberi pengertian kepada anak. Sebab bisa saja proses tersebut disebabkan karena orang tua.

Jangan sampai nilai buruk menjadikan anak tertekan, sedangkan orang tua penyebab anak mendapatkan nilai buruk. Yang terpenting dalam hal ini adalah komunikasi. Dengan berkomunikasi, anak akan bercerita dengan keadaannya ketika ia mendapatkan nilai yang jelek.

Jika anak merasa malu atau menghindar dengan nilai yang didapat, mungkin saja ada konflik yang dialami anak bahwa ia tak nyaman dengan mendapatkan nilai itu. Untuk itu ketika anak sedang mengalami tekanan karena mendapatkan nilai buruk, orang tua harus terus memberikan semangat dan pengertian. Karena anak membutuhkan pendampingan dari orang tua.

Reward

Ketika anak mendapatkan nilai buruk, orang tua juga bisa memberikan reward kepada anak, gunanya adalah untuk memberikan semangat kembali kepada anak. Reward sangat dibutuhkan oleh si anak, namun perlu diperhatikan pula, dalam memberikan reward tidak harus selalu berupa barang dan materi yang berlebihan.

Karena, anak akan berstimulasi dengan reward tersebut. Tak apa-apa jika ortu memberikan reward, namun harus ada komitmen antara ibu dan anak terhadap reward tersebut. Bisa saja pemberian reward tersebut bisa memperbaiki nilai anak, pokoknya asal jangan diberikan rerward yang berlebihan.

Pemberian reward sebaiknya berupa suatu hal yang bermakna kebersamaan, seperti memberikan pelukan, pujian atau ajakan berlibur bersama keluarga. Namun dengan catatan anak harus berjanji akan dapat memperbaiki nilai buruknya. Dengan begitu anak juga akan semakin dekat dengan orang tuanya.

 

By

PENDIDIKAN LINGKUNGAN SOSIAL BUDAYA DAN TEKNOLOGI

PENDIDIKAN LINGKUNGAN SOSIAL BUDAYA DAN TEKNOLOGI

Disusun Oleh : Rizki Agustin RHB

 Kebudayaan menurut Taylor adalah totalitas yang kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, seni, hukum, moral, adat, dan kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang diperoleh orang sebagai anggota masyarakat (Imran Manan, 1989)

Hassan (1983) misalnya mengatakan kebudayaan berisikan : (1) norma-norma, (2) folkways yang mencakup kebiasaan, adat, dan tradisi, dan (3) mores. Sementara itu Imran Manan (1989) menunjukkan lima komponen kebudayaan sebagai berikut : (1) Gagasan, (2) Ideologi, (3) Norma, (4) Teknologi, dan (5) Benda. Agar menjadi lengkap, perlu ditambah beberapa komponen lagi yaitu : (1) Kesenian, (2) Ilmu dan (3) Kepandaian.

Kebudayaan dapat dikelompokkan menjadi tiga macam, yaitu : (1) Kebudayaan umum, misalnya kebudayaan Indonesia, (2) Kebudayaan daerah, misalnya kebudayaan Jawa, Bali, Sunda, Nusa Tenggara Timur dan sebagainya dan (3) Kebudayaan popular, yaitu  suatu  kebudayaan yang masa berlakunya rata-rata lebih pendek daripada kedua macam kebudayaan terdahulu.

Fungsi kebudayaan dalam kehidupan manusia adalah : (a) Penerus keturunan dan pengasuh anak, (b) Pengembangan kehidupan berekonomi, (c) Transmisi budaya, (d) Meningkatkan iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha esa, (e) Pengendalian sosial, (f) Rekreasi

Perubahan kebudayaan disebabkan oleh : (a) Originasi atau penemua-penemua baru, (b) Difusi atau percampuran budaya baru dengan budaya lama, (c) Reinterpretasi atau modifikasi kebudayaan agar sesuai dengan keadaan zaman.

Upaya bangsa Indonesia untuk memberantas kebodohan dengan mewajibkan pendidikan dasar sembilan tahun adalah satu upaya untuk mempersiapkan masyarakat dalam menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi. Seiring dengan berubahnya kebutuhan masyarakat akan pendidikan yang mampu membekali diri mereka dengan pengetahuan dan keterampilan yang nantinya dpat digunakan atau dipraktikkan dalam kehidupan nyata, maka perubahan sosial sebagai akibat dari perubahan orientasi pendidikan juga akan terjadi.

Jika kita melihat perubahan sosial sebagai dampak dari berkembangnya teknologi adalah dengan sangat mudahnya mengakses internet yang bagi masyarakat yang tidak agamis dapat digunakan untuk hal-hal yang negatif, kita juga bisa menyaksikan banyaknya kecurangan-kecurangan, ketidak jujuran, dan banyak perbuatan negatif yang bertentangan dengan norma agama Islam sebagai dampak dari perubahan sosial, karenanya sangat diperlukan sistem Pendidikan  yang dapat mempersiapkan manusia (masyarakat) untuk tidak melakukan perbuatan tersebut.

Dampak lain dari terjadinya perubahan sosial terhadap Pendidikan  adalah dengan terus dikembangkannya kurikulum yang mampu menjawab tantangan perubahan, juga berdampak pada perubahan sistem manajemen pendidikan yang berorientasi pada mutu (quality oriented), yaitu tuntutan akan peningkatan kualitas pembelajaran yang berkelanjutan menuju kepada pembelajaran unggul sehingga menghasilkan output yang berkualitas.

Perubahan sosial yang terjadi pada suatu masyarakat sangat berpengaruh pada pendidikan dan Pendidikan  pada khususnya, namun tidak semua perubahan sosial yang terjadi berdampak positif, tetapi ada juga perubahan sosial yang menghasilkan akbit buruk bagi dunia Pendidikan , berikut sisi positif dan negatif dari suatu perubahan sosial terhadap Pendidikan :

  1.      Dampak positif

Sisi positif dari sebuah perubahan sosial bagi Pendidikan  adalah dapat meningkatnya taraf Pendidikan  dalam kehidupan masyarakat sehingga dapat menghasilkan manusia yang siap menghadapi perubahan sosial tersebut dengan mengacu pada ajaran-ajaran Islam.

  1.      Dampak negatif

Sedangkan dari sisi negatif dari suatu perubahan sosial terhadap Pendidikan  adalah ketidaksiapan Pendidikan  menerima perubahan yang begitu cepat dan drastis, artinya lembaga Pendidikan  harus lebih siap dalam menghadapi perubahan sosial yang semakin berkembang dan terus menerus berubah.

Apalagi dengan berkembangnya teknologi yang begitu pesat yang membuat banyaknya pengaruh budaya dari luar yang membuat banyaknya pengaruh budaya dari luar yang merasuk pada kehidupan dan cara hidup anak-anak muslim. Siaran televisi dan akses internet yang sudah bisa dilakukan dimana saja, menjadi tantangan tersendiri bagi Pendidikan  untuk mengantisipasinya, jika Pendidikan  tidak siap terhadap perubahan tersebut maka, Pendidikan  akan tergusur, tetapi tidak jika para pegiat Pendidikan  senantiasa berinnovasi dan berkreasi dalam mengantisipasi perbuhan tersebut, dengan tentunya tidak terlepas dari tuntunan ajaran Islam.

Pengaruh perubahan sosial yang lainnya terhadap Pendidikan  adalah terjadinya transformasi pemikiran dalam Pendidikan, seiring dengan perubahan-perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat. Sehingga Pendidikan  juga mengalami perubahan. Hal ini terjadi karena adanya persepsi bahwa Islam sebagai penghambat perubahan, Islam dituduh sebagai tatanan nilai yang tidak bisa berdampingan dengan kemajuan dan sains modern. Jelas semua anggapan tersebut salah karena ajaran Islam sangat sesuai dengan perkembangan zaman dan mendukug perkembangan sains (sains yang value bound, bukan yang free of value), karena pada hakekatnya perkembangan dan kemajuan sains harus sesuai dengan harkat dan martabat manusia.

Dalam hal yang lebih kongkrit pengaruh perubahan sosial terhadap Pendidikan  adalah ketika perubahan sosial membawa kepada perbaikan ekonomi masyarakat dan menuntut mereka untuk memenuhi kebutuhan akan hasil teknologi seperti komputer/laptop, maka ketika seorang anak yang mendapat tugas dari gurunya untuk membuat karya tulis sederhana yang bahannya tersedia lewat internet, maka secara langsung dan jelas perubahan sosial.

Kita juga melihat perkembangan lembaga Pendidikan  yang berorientasi pada IPTEK sebagai hasil dari berubahnya masyarakat, sehingga banyak visi sekolah/madrasah yang mengedepankan orientasi IPTEK, karena disisi lain masyarakat juga menuntut lembaga pendidikan yang mengikuti perkembangan dan mampu mempersiapkan anak mereka untuk menghadapi masa depan. Jelas, bahwa perubahan sosial yang terjadi sangat berdampak pada Pendidikan .

Pesantren modern adalah salah satu bentuk lembaga Pendidikan  yang mencoba mengakomodasi keinginan masyarakat akan mutu manusia yang beriman sekaligus juga berwawasan keilmuan, sehingga selain dipelajari bahasa Arab sebagai modal utama dalam mengkaji ilmu keislaman dari sumber yang menggunakan bahasa Arab, juga bahasa asing dunia lainnya terutama bahasa Inggris sebagai antisipasi terhadap perubahan sosial yang mengedepankan kemampuan individu yang komprehensif.

Bahkan banyak sekolah/madrasah yang diberi lebel “Model” yang oleh pemerintah disiapkan untuk membentuk dan menyiapkan sumber daya manusia yang Islami sekaligus tidak gagap teknologi dan ilmu pengetahuan.

Dalam sejarah lembaga Pendidikan  juga berubah atau berkembang menurut keadaan masyarakat, kalau pada saat Islam masuk dan berkembang di Nusantara, Islam diajarkan melalui lembaga surau, namun ketika masyarakat berubah, maka Islam sekarang juga diajarkan melalui pendidikan formal (jalur sekolah).

Perubahan sosial budaya yang terjadi di lingkungan dapat saja mempengaruhi pelaksanaan prinsip-prinsip Pendidikan  di masayarakat tersebut, karena prinsip-prinsip tersebut bisa saja tidak berjalan dengan baik karena perubahan sosial yang terjadi, misalnya berubahnya pola pikir masyarakat dari orientasi agama kepada orientasi dunia kerja, sehingga Pendidikan  dimasayarakat sering kali terpinggirkan, menjadi marjinal, dan tidak menjadi pilihan pertama.

Hal tersebut juga mungkin saja dikarenakan bahwa lembaga pendidikan yang melaksanakan Pendidikan  di masayarakat tidak mengantisipasi perubahan sosial tersebut, karena bisa saja Pendidikan  dimasayarakat mempersiapkan SDM/lulusan yang siap kerja dan siap membuka lapangan pekerjaan.

“Sumber buku penelitian, Fritz H.S. Damanik, Membentang Fakta Dunia Sosial.”

PENDIDIKAN LINGKUNGAN SOSIAL BUDAYA DAN TEKNOLOGI

Disusun Oleh : Rizki Agustin RHB

 Kebudayaan menurut Taylor adalah totalitas yang kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, seni, hukum, moral, adat, dan kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang diperoleh orang sebagai anggota masyarakat (Imran Manan, 1989)

Hassan (1983) misalnya mengatakan kebudayaan berisikan : (1) norma-norma, (2) folkways yang mencakup kebiasaan, adat, dan tradisi, dan (3) mores. Sementara itu Imran Manan (1989) menunjukkan lima komponen kebudayaan sebagai berikut : (1) Gagasan, (2) Ideologi, (3) Norma, (4) Teknologi, dan (5) Benda. Agar menjadi lengkap, perlu ditambah beberapa komponen lagi yaitu : (1) Kesenian, (2) Ilmu dan (3) Kepandaian.

Kebudayaan dapat dikelompokkan menjadi tiga macam, yaitu : (1) Kebudayaan umum, misalnya kebudayaan Indonesia, (2) Kebudayaan daerah, misalnya kebudayaan Jawa, Bali, Sunda, Nusa Tenggara Timur dan sebagainya dan (3) Kebudayaan popular, yaitu  suatu  kebudayaan yang masa berlakunya rata-rata lebih pendek daripada kedua macam kebudayaan terdahulu.

Fungsi kebudayaan dalam kehidupan manusia adalah : (a) Penerus keturunan dan pengasuh anak, (b) Pengembangan kehidupan berekonomi, (c) Transmisi budaya, (d) Meningkatkan iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha esa, (e) Pengendalian sosial, (f) Rekreasi

Perubahan kebudayaan disebabkan oleh : (a) Originasi atau penemua-penemua baru, (b) Difusi atau percampuran budaya baru dengan budaya lama, (c) Reinterpretasi atau modifikasi kebudayaan agar sesuai dengan keadaan zaman.

Upaya bangsa Indonesia untuk memberantas kebodohan dengan mewajibkan pendidikan dasar sembilan tahun adalah satu upaya untuk mempersiapkan masyarakat dalam menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi. Seiring dengan berubahnya kebutuhan masyarakat akan pendidikan yang mampu membekali diri mereka dengan pengetahuan dan keterampilan yang nantinya dpat digunakan atau dipraktikkan dalam kehidupan nyata, maka perubahan sosial sebagai akibat dari perubahan orientasi pendidikan juga akan terjadi.

Jika kita melihat perubahan sosial sebagai dampak dari berkembangnya teknologi adalah dengan sangat mudahnya mengakses internet yang bagi masyarakat yang tidak agamis dapat digunakan untuk hal-hal yang negatif, kita juga bisa menyaksikan banyaknya kecurangan-kecurangan, ketidak jujuran, dan banyak perbuatan negatif yang bertentangan dengan norma agama Islam sebagai dampak dari perubahan sosial, karenanya sangat diperlukan sistem Pendidikan  yang dapat mempersiapkan manusia (masyarakat) untuk tidak melakukan perbuatan tersebut.

Dampak lain dari terjadinya perubahan sosial terhadap Pendidikan  adalah dengan terus dikembangkannya kurikulum yang mampu menjawab tantangan perubahan, juga berdampak pada perubahan sistem manajemen pendidikan yang berorientasi pada mutu (quality oriented), yaitu tuntutan akan peningkatan kualitas pembelajaran yang berkelanjutan menuju kepada pembelajaran unggul sehingga menghasilkan output yang berkualitas.

Perubahan sosial yang terjadi pada suatu masyarakat sangat berpengaruh pada pendidikan dan Pendidikan  pada khususnya, namun tidak semua perubahan sosial yang terjadi berdampak positif, tetapi ada juga perubahan sosial yang menghasilkan akbit buruk bagi dunia Pendidikan , berikut sisi positif dan negatif dari suatu perubahan sosial terhadap Pendidikan :

  1.      Dampak positif

Sisi positif dari sebuah perubahan sosial bagi Pendidikan  adalah dapat meningkatnya taraf Pendidikan  dalam kehidupan masyarakat sehingga dapat menghasilkan manusia yang siap menghadapi perubahan sosial tersebut dengan mengacu pada ajaran-ajaran Islam.

  1.      Dampak negatif

Sedangkan dari sisi negatif dari suatu perubahan sosial terhadap Pendidikan  adalah ketidaksiapan Pendidikan  menerima perubahan yang begitu cepat dan drastis, artinya lembaga Pendidikan  harus lebih siap dalam menghadapi perubahan sosial yang semakin berkembang dan terus menerus berubah.

Apalagi dengan berkembangnya teknologi yang begitu pesat yang membuat banyaknya pengaruh budaya dari luar yang membuat banyaknya pengaruh budaya dari luar yang merasuk pada kehidupan dan cara hidup anak-anak muslim. Siaran televisi dan akses internet yang sudah bisa dilakukan dimana saja, menjadi tantangan tersendiri bagi Pendidikan  untuk mengantisipasinya, jika Pendidikan  tidak siap terhadap perubahan tersebut maka, Pendidikan  akan tergusur, tetapi tidak jika para pegiat Pendidikan  senantiasa berinnovasi dan berkreasi dalam mengantisipasi perbuhan tersebut, dengan tentunya tidak terlepas dari tuntunan ajaran Islam.

Pengaruh perubahan sosial yang lainnya terhadap Pendidikan  adalah terjadinya transformasi pemikiran dalam Pendidikan, seiring dengan perubahan-perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat. Sehingga Pendidikan  juga mengalami perubahan. Hal ini terjadi karena adanya persepsi bahwa Islam sebagai penghambat perubahan, Islam dituduh sebagai tatanan nilai yang tidak bisa berdampingan dengan kemajuan dan sains modern. Jelas semua anggapan tersebut salah karena ajaran Islam sangat sesuai dengan perkembangan zaman dan mendukug perkembangan sains (sains yang value bound, bukan yang free of value), karena pada hakekatnya perkembangan dan kemajuan sains harus sesuai dengan harkat dan martabat manusia.

Dalam hal yang lebih kongkrit pengaruh perubahan sosial terhadap Pendidikan  adalah ketika perubahan sosial membawa kepada perbaikan ekonomi masyarakat dan menuntut mereka untuk memenuhi kebutuhan akan hasil teknologi seperti komputer/laptop, maka ketika seorang anak yang mendapat tugas dari gurunya untuk membuat karya tulis sederhana yang bahannya tersedia lewat internet, maka secara langsung dan jelas perubahan sosial.

Kita juga melihat perkembangan lembaga Pendidikan  yang berorientasi pada IPTEK sebagai hasil dari berubahnya masyarakat, sehingga banyak visi sekolah/madrasah yang mengedepankan orientasi IPTEK, karena disisi lain masyarakat juga menuntut lembaga pendidikan yang mengikuti perkembangan dan mampu mempersiapkan anak mereka untuk menghadapi masa depan. Jelas, bahwa perubahan sosial yang terjadi sangat berdampak pada Pendidikan .

Pesantren modern adalah salah satu bentuk lembaga Pendidikan  yang mencoba mengakomodasi keinginan masyarakat akan mutu manusia yang beriman sekaligus juga berwawasan keilmuan, sehingga selain dipelajari bahasa Arab sebagai modal utama dalam mengkaji ilmu keislaman dari sumber yang menggunakan bahasa Arab, juga bahasa asing dunia lainnya terutama bahasa Inggris sebagai antisipasi terhadap perubahan sosial yang mengedepankan kemampuan individu yang komprehensif.

Bahkan banyak sekolah/madrasah yang diberi lebel “Model” yang oleh pemerintah disiapkan untuk membentuk dan menyiapkan sumber daya manusia yang Islami sekaligus tidak gagap teknologi dan ilmu pengetahuan.

Dalam sejarah lembaga Pendidikan  juga berubah atau berkembang menurut keadaan masyarakat, kalau pada saat Islam masuk dan berkembang di Nusantara, Islam diajarkan melalui lembaga surau, namun ketika masyarakat berubah, maka Islam sekarang juga diajarkan melalui pendidikan formal (jalur sekolah).

Perubahan sosial budaya yang terjadi di lingkungan dapat saja mempengaruhi pelaksanaan prinsip-prinsip Pendidikan  di masayarakat tersebut, karena prinsip-prinsip tersebut bisa saja tidak berjalan dengan baik karena perubahan sosial yang terjadi, misalnya berubahnya pola pikir masyarakat dari orientasi agama kepada orientasi dunia kerja, sehingga Pendidikan  dimasayarakat sering kali terpinggirkan, menjadi marjinal, dan tidak menjadi pilihan pertama.

Hal tersebut juga mungkin saja dikarenakan bahwa lembaga pendidikan yang melaksanakan Pendidikan  di masayarakat tidak mengantisipasi perubahan sosial tersebut, karena bisa saja Pendidikan  dimasayarakat mempersiapkan SDM/lulusan yang siap kerja dan siap membuka lapangan pekerjaan.

“Sumber buku penelitian, Fritz H.S. Damanik, Membentang Fakta Dunia Sosial.”

 

By

Pengaruh Ilmu Teknologi Terhadap Psikologi Anak

Pengaruh Ilmu Teknologi Terhadap Psikologi Anak

          Oleh :citra ayu anggraini

à pembahasan

  1. Pengertian Iptek

   Menurut suranto (2009) Ilmu pengetahuan dan tekhnologi (IPTEK) adalah istilah yang sering sekali kita dengar di kehidupan kita sehari-hari. Pengetahuan, ilmu, dan teknologi ini sebenarnya bisa digunakan secara terpisah tetapi kita biasanya mengalami kesulitan dalam memisahkan pengertian dari ketiga istilah tersebut. Menurut suranto (2009) Pengetahuan (knowledge) adalah segala sesuatu yang ditangkap melalui pancaindera sehingga terbentuk persepsi dan konsepsi dalam pikiran manusia.   Pengetahuan tersebut disusun secara sistematis agar dapat membentuk jalinan hubungan antara komponen-komponen pengetahuan tersebut sehingga komponen-komponen itu disebut pengetahuan ilmiah atau ilmu (science). Jadi ilmu merupakan bagian dari pengetahuan tetapi pengetahuan belum tentu merupakan ilmu.

Dalam menjelaskan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah aktifitas, hasil dan komunikasi ilmu, yang menyebutkan bahwa aktifitas yang dilakukan untuk menghasilkan ilmu adalah penelitian dengan hasil dalam bentuk karya tulis ilmiah yang dikomunikasikan ke masyarakat melalui media publikasi ilmiah. Jadi, IPTEK tersebut berkembang pesat, baik dalam hal penemuan, penyebarluasan, atau penerapannya, karena didukung dengan kegiatan penelitian atau melalui pembuatan dan publikasi karya tulis ilmiah.

  1. Pelaksanaan dan Pengembangan Iptek Di Indonesia

Menurut Asis Gande (2009) peradaban bangsa dan masyarakat dunia di masa depan sudah dipahami dan disadari akan berhadapan dengan situasi serba kompleks dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan, sebut saja antara lain; cloning, cosmology, cryonics, cyberneties, exobiology, genetic, engineeringdan nanotechnology. Menurutnya cabang-cabang IPTEK itu telah memunculkan berbagai perkembangan yang sangat cepat dengan implikasi yang menguntungkan bagi manusia atau sebaliknya. Untuk mendayagunakan Iptek diperlukan nilai-nilai luhur agar dapat dipertanggungjawabkan.

Asis Gande (2009) menggunakan 4 (empat) rumusan nilai luhur pembangunan Iptek Nasional, yang meliputi:

  1. Penerapan Iptek harus dapat dipertanggungjawabkan baik secara moral, lingkungan, finansial, bahkan dampak politis.
  2. Pembangunan Iptek memberikan solusi strategis dan jangka panjang, tetapi taktis dimasa kini, tidak bersifat sektoral dan tidak hanya memberi implikasi terbatas.
  3. Berorientasi pada segala sesuatu yang baru, dan memberikan apresiasi tinggi terhadap upaya untuk memproduksi inovasi baru dalam upaya inovatif untuk meningkatkan produktifitas.
  4. Keseluruhan tahapan pembangunan Iptek mulai dari fase inisiasi, perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, evaluasi, implikasi pada bangsa harus baik, yang terbaik atau berusaha menuju yang terbaik.
  5. Karakter
  6. Pengertian Karakter

Pengertian Karakter (character) mengacu pada serangkaian sikap (attitudes), perilaku (behaviors), motivasi (motivations), dan keterampilan (skills). Karakter ini meliputi sikap seperti keinginan untuk melakukan suatu hal yang terbaik, kapasitas intelektual seperti berpikir kritis dan alasan moral, perilaku jujur dan bertanggungjawab, mempertahankan prinsip-prinsip moral dalam situasi penuh ketidak adilan, kecakapan interpersonal dan emosional yang memungkinkan seseorang berinteraksi secara efektif dalam berbagai situasi, dan komitmen untuk berkontribusi dengan komunitas dan masyarakatnya. Karakteristik adalah realisasi perkembangan positif sebagai individu (intelektual sosial, emosional, dan etika). Individu yang berkarakter baik adalah seseorang yang berusaha melakukan hal yang terbaik (Battishtich, 2008).

Karakter menurut Alwisol (2008) diartikan sebagai gambaran tentang tingkah laku yang menonjolkan nilai benar-salah, baik-buruk, baik secara eksplisit maupun implisit. Karakter berbeda dengan kepribadian, karena pengertian kepribadian itu dibebaskan dari nilai-nilai. Meskipun demikian, baik kepribadian (personality) maupun karakter merupakan wujud tingkah laku yang ditunjukkan seseorang dalam lingkungan sosial.

Seseorang yang berperilaku tidak jujur, kejam, atau rakus dapat dikatakan sebagai orang yang karakternya itu tidak baik dan jika orang yang dikatakan perilakunya terbalik dari perilaku-prilaku tersebut maka orang itu dikatakan sebagai orang yang berkarakter mulia. Jadi istilah dari karakter itu sendiri berkenaan dengan personality (kepribadian) dari seseorang. Seseotang itu dapak di katakan sebagai orang yang ber karakter jika dia dapat berperilaku sesuai dengan kaidah pada perilaku-perilaku yang telah ditetapkan dari kaidah moral tersebut.

Megawangi (2003), menyatakan bahwa seseorang yang memiliki karakter baik adalah yang memiliki kualitas karakter yang meliputi sembilan pilar, yaitu (1) cinta tuhan dan segenap ciptaan-nya; (2) tanggung jawab, disiplin dan mandiri; (3) jujur/amanah dan arif; (4) hormat dan santun; (5) dermawan, suka menolong, dan gotong-royong; (6) percaya diri, kreatif dan pekerja keras; (7) kepemimpinan dan adil; (8) baik dan rendah hati; (9) toleran, cinta damai dan kesatuan.

  1. Bagaimana karakter dikembangkan

Tujuan pendidikan ini adalah untuk mendorong lahirnya peserta didik yang baik, artinya tumbuh dalam karakter yang baik, tumbuh dengan segala potensi yang baik, serta kapasitas dan komitemen untuk melakukan yang terbaik dilakukan secara benar dan memiliki kecenderungan untuk tujuan hidup. Pendidikan karakter yang efektif, akan ditemukan dalam lingkungan sekolah yang memungkinkan semua peserta didiknya menunjukkan potensinya guna mencapai tujuan yang sangat penting (Battistich, 2008) Karakter, menurut Fromm (melalui Alwisol, 2006), berkembangnya karakter sesuai dengan kebutuhan yang mengganti posisi insting kebinatangan yang hilang saat manusia berkembang tahap demi tahap. Dengan karakter yang dimiliki maka akan membuat seseorang mampu berfungsi di dalam dunia tanpa harus memikirkan apa yang harus dikerjakan. Karakter manusia yang berkembang maka akan berpengaruh pada sosialnya. Menurut Alwisol (2006) bahwa masyarakat membentuk karakter melalui pendidik dan orangtua agar anak bersedia bertingkahlaku seperti yang dikehendaki masyarakat. Karakter yang dibentuk secara sosial ini dapat mencakup accepting, preserving, taking, exchanging, dan biophilous. Karakter dapat dikembangkan melalui tahap pengetahuan (knowing), acting, menuju pada kebiasaan (habit). Hal ini berarti, karakter bukan hanya sebatas pada pengetahuan pengetahuan tetapi terdapat juga nilai-nilai didalamnya.

Karakter dilandasi dengan nilai-nilai dalam dirinya untuk dapat berbuat jujur. Hal itu dilakukannya karena ia takut untuk di nilai salah oleh orang lain. Oleh karenanya, didalam pendidikan karakter diperlukan sekali aspek perasaan (emosi). Dengan memakai istilah dari Lickona (1992) komponen ini dalam pendidikan karakter disebut desiring the good atau keinginan untuk berbuat kebaikan. Menurut Lickona pendidikan karakter yang baik harus melibatkan bukan saja aspek pengetahuan moral tetapi juga keinginan untuk berbuat baik dan melakukan hal-hal yang baik. Dengan demikian karakter dapat dikembangkan melalui tiga langkah yaitu dapat mengembangkan pengetahuan tentang moral, penguasaan tentang aspek emosi dan terakhir dapat melakukan aksi moral.

  1. Prinsip Pengembangan Karakter Menurut Lickona, Schaps dan Lewis (2003), bahwa pendidikan karakter harus didasarkan pada sebelas prinsip berikut: 1) Mempromosikan nilai-nilai dasar etika sebagai basis karakter, 2) Mengidentifikasi karakter secara komprehensif supaya mencakup pemikiran, perasaan dan perilaku, 3) Menggunakan pendekatan tajam, proaktif dan efektif untuk membangun karakter, 4) Menciptakan komunitas sekolahyang memiliki kepedulian, 5) Memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menunjukkan perilaku yang baik, 6) Memiliki cakupan terhadap kurikulum yang bermakna dan menantang yang menghargai semua pserta didik, membangun karakter mereka dan membantu mmereka untuk meraih sukses, 7) Mengusahakan tumbuhanya motovasi diri pada peserta didik, 8) Memfungsikan seluruh staf sekolah sebagai komunitas moral yang berbagi tanggungjawab untuk pendidikan karakter dan setia pada nilai dasar yang sama, 9) Adanya pembagian kepemimpinan moraldan dukungan luas dalam membangun inisiatif pendidikan karakter, 10) Memfungsikan keluarga dan anggota masyarakat sebagai mitra dalam usaha membangun karakter, 11) Mengevaluasi karakter sekolah, fungsi staf sekolah sebagai guru-guru karakter, dan menifestasi karakter positif dalam kehidupan peserta didik.
  2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Anak

Janet Black (1992) melihat bahwa tumbuh kembang anak melalui tahap-tahap sebagai berikut:

  • Tahap infancy I (0-1 tahun) apek yang perlu mendapat perhatian pada perkembangan pada tahap ini yaitu: (a) Perkembangan fisik dan motorik, (b)Perkembangan psiko-sosial, (c) Perkembangan kognitif, (d) Perkembangan bahasa.
  • Tahap infancy II (1-3 tahun), aspek perkembangan pada tahap ini sama dengan tahap infancy I, hanya saja kematangannya yang berbeda.
  • Tahap anak umur 4-5 tahun, aspek yang perlu di pelajari pada tahap perkembangan ini sama dengan tahap infancy.

Janet Black melihat dari setiap perkembangan itu memiliki kesamaan walaupun tahap-tahapnya berbeda tetapi materi yang dipelajari pada setiap tahap ini berbeda satu sama lainnya. Berbeda dengan Janet Black, Papalia dan Olds berpandangan perkembangan anak usia dini dapat di kategorikan menjadi dua kelompok:

  • Kategori perkembangan fisik dan intelektual.
  1. Perkembangan fisik meliputi: 1) pertumbuhan dan perubahan fisik; 2) Kesehatan dan masalah fisik; 3) Keterampilan motori; 4) Pola tidur dan masalahnya.
  2. Perkembangan intelektual meliputi; ingatan, kognitif, bahasa dan perkembangan inteligensia.
  • Kategori perkembangan kepribadian dan sosial.

Berbeda dengan Janet Black maupun papalia dan Olds, Elizabeth B. Hurluck (1995) berpandangan bahwa perkembangan anak dapat ditinjau dari aspek masa-masa atau umur tertentu. Adapun aspek-aspek perkembangan tersebut adalah perkembangan fisik-motorik, sosial-emosionak, morak keagamaan, dan perkembangan kognitif.

Selain kedua faktor diatas perkembangan anak juga dibagi lagi menjadi lima faktor, adapun faktor-faktor tersebut yaitu :

  1. Keluarga, Sebagai lingkungan pertama yang ditemui oleh anak sangat berpengaruh dalam perkembangan sosialnya.
  2. Kematangan, Bersosialisasi memerlukan kematangan fisik dan psikis. Untuk mampu mempertimbangkan dalam proses sosial, memberi dan .menerima pendapat orang lain memerlukan kematangan intelektual dan emosional.
  3. Status sosial ekonomi, Masyarakat sering memandang anak bukan sebagai anak yang independent akan tetapi akan dipandang dalam konteksnya yang utuh dalam keluarga anak itu. Oleh karena itu secara tidak langsung dalam pergaulan anak, masyarakat dan kelompoknya akan memperhitungkan norma yang berlaku dalam keluarganya dan sering pula anak akan senantiasa menjaga status sosial dan ekonomi keluarganya, sehingga akan muncul kelompok elit yang eksklusif.
  4. Pendidikan, Pendidikan merupakan proses sosialisasi anak yang terarah untuk lebih mengenal norma-norma kehidupan yang lebih luas dan benar.
  5. Kapasitas mental, emosi dan inteligensi. Kemampuan berpikir, kemampuan mengendalikan emosi dan berbahasa yang baik sangat menentukan keberhasilan dalam bersosialisasi.
  6. Dampak Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Perkembangan ilmu pengetahuan dan tenologi yang sangat pesat di Indonesia membawa barbagai pengaruh atau dampak terhadap anak. Pengeruh tersebut membawa suatu perubahan yang sangat besar terhadap perkembangan anak baik itu pengaruh sikap,mental dan daya pikir anak. Adapun dampak ini terbagi menjadi 2 yaitu:

  • Dampak Positif

Dampak positif dari IPTEK:

  1. Dapat mempermudah anak dalam mendapatkan informasi dan pengetahuan yang lebih luas.
  2. Memudahkan dan melancarkan anak dalam berkomunikasi dengan orang lain.
  3. Memudahkan anak memahani proses balajar dan mengajar
  4. Memudahkan anak dalam mengerjakan pekerjaannya.
  5. Memudahkan anak dalam menuangkan ide-ide
  6. Anak mampu belajar sendiri melalui GAME
  • Dampak Negatif

Dampak negatif dari IPTEK:

  1. Kecenderungan dalam menggunakan media elektronik, sehingga tidak suka membaca buku.
  2. Seseorang menjadi konsumtif, yaitu sikap yang hanya bisa menggunakan saja, tapi tidak bisa membuat.
  3. Terjadi Kejahatan-kejahatan dalam dunia maya.
  4. Pola pikir seseorang menjadi tidak bermoral kerena situs-situs yang salah juga ada dalam internet, seperti situs porno.
  5. Sikap agresif yang berlebihan yang disebabkan terlalu sering memainkan game atau permainan ekstrim dan agresif.

  1. Kesimpulan

Ilmu pengetahuan dan teknologi adalah aktifitas, hasil dan komunikasi ilmu, yang menyebutkan bahwa aktifitas yang dilakukan untuk menghasilkan ilmu adalah penelitian dengan hasil dalam bentuk karya tulis ilmiah yang dikomunikasikan ke masyarakat melalui media publikasi ilmiah. Cabang-cabang IPTEK itu telah memunculkan berbagai perkembangan yang sangat cepat dengan implikasi yang menguntungkan bagi manusia atau sebaliknya. Untuk mendayagunakan Iptek diperlukan nilai-nilai luhur agar dapat dipertanggungjawabkan.

Karakter (character) mengacu pada serangkaian sikap (attitudes), perilaku (behaviors), motivasi (motivations), dan keterampilan (skills). Karakter meliputi sikap seperti keinginan untuk melakukan suatu hal yang terbaik, kapasitas intelektual seperti berpikir kritis dan alasan moral, perilaku jujur dan bertanggungjawab, mempertahankan prinsip-prinsip moral dalam situasi penuh ketidak adilan, kecakapan interpersonal dan emosional yang memungkinkan seseorang berinteraksi secara efektif dalam berbagai situasi, dan komitmen untuk berkontribusi dengan komunitas dan masyarakatnya. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang pesat memberikan berbagai pengaruh terhadap perkembangan karakter pada anak, baik itu berdampak yang negatif maupun berdampak positif.

Sekian terimakasih^^….

By

PENGARUH TEKHNOLOGI KOMUNIKASI TERHADAP KEHIDUPAN SOSIAL

PENGARUH TEKHNOLOGI KOMUNIKASI TERHADAP KEHIDUPAN SOSIAL

Masyarakat merupakan sekelompok orang yang hidup bersama, berinteraksi dengan individu-individu lainnya dan paling tergantung satu sama lain(makhluk sosial).keadaan masyarakat pada era globalisasi sekarang ini,cenderung tidak di pisahkan dengan tekhnologi informasi yang ada.dengan adanya teknologi informasi dan komunikasi,memudahkan masyarakat dalam menjalin hubungan secara gobal

Efek positif dari tekhnologi &komunikasi dalam kehidupan sosial di antaranya

1.masyarakt mudah mengetahui dunia international

2.mudah berkomunikasi jarak jauh

3.bertransaksi mudah dengan adanya berbagai aplikasi internet,contohnya:belanja,transportasi,tiket,dll

4.masyarakat lebih memilih bermain gadget di banding bercengkrama dan menyapa saat berkumpul

TEKHNOLOGI INFORMASI DALAM DUNIA PENDIDIKAN

Arus berkembangnya tekhnologi begitu derasnya sehingga menuntut kita untuk lebih aktif di dalam mengikuti perkembangan informasi tersebut,dengan adanya internet merupakan salah satu bentuk tekhnologi yang seharusnya dapat memotivasi, sekaligus memberikan inspirasi dalam dunia pendidikan perkembangan tekhnologi sudah sangat mempunyai dampak yang begitu positif karna dengan berkembangnya teknologi informasi dunia pendidikan mulai memperlihatkan perubahan yang cukup signifikan,walaupun dibalik kelebihan sesuatu pasti di sana juga ada kelemahannya.kenyataan ini menunjukan akan ketergantungan masyarakat terhadap tekhnologi,contoh real dalam dunia pendidikan pada saat ini,kita jarang sekali melihat belakangan ini seorang pelajar membawa buku di stiap aktiftas belajar,persentase pelajar hamoir lebih besar rujukannya adalah internet.

Berikut ini poin-poin positif dari pengaruh tekhnologi dan komunikasi dari dunia pendidikan:

1.sangat membantu proses pembalajaran&lebih cepat serta lebih mudah di akses

2.bervungsi virtual kelas,di mana sangat memudahkan para pelajar untuk saling berkumunikasi dengan system tanpa bertatap(face to face)bisa juga di sebut i learning class

3.memudahkan system usaha serta kegiatan administrasi pada sebuah lembaga pendidikan

Berikut ini poin-poin negatif dari pengaruh tekhnologi dan komunikasi dari dunia pendidikan

1.terdapatnya situs-situs yang tidak mendidik,&membuat pengguna menjadi rusak/terpengaruh akal pikirannya,seperti situs porn,perjudian dll

2,membuat pengguna menjadi malas,dalam satu sisi yang lain akibat kecanggihan tekhnologi ini,sehingga membuat pengguna malas dalam membantu orang tua

3,tindak kriminal cybercrime yang di lakukan seseorang dengan perantantara tekhnologi internet ini,sehingga mencetak generasi yang berpengetahuan tetapi mempunyai moral yang rendah

TEKHNOLOGI INFORMASI TERHADAP MASYARAKAT

Perkembangan tekhnologi sangat penting dalam bersosialisasi namun menyebabkan perubahan yang signifikan pada kehidupan bermasyarakat dalam peradaban dunia mereka.dalam bermasyarakaat pada saat ini,hampir di setap sektor kehidupan manusia yang berlangsung dengan perantara/hanya mungkin terjadi dengan adanya tekhnologi informasi(internet).sehingga menyebabkan adanya ketergantungan pada sumbaer energi,sumber pangan dan sumber daya strategis lainnya,apabila terjadi sesuatu hal dalam dunia maya(internet),maka akan berdampak juga dalam kehidupan maya,pada saat ini tekhnologi konunikasi seakan akan mendekatkan yg jauh dan menjauhkan yang dekat.

By

PENDIDIKAN LINGKUNGAN SOSIAL BUDAYA DAN (PLSBT)

PENDIDIKAN LINGKUNGAN SOSIAL BUDAYA DAN (PLSBT)

Tugas Artikel “pengaruh lingkungan dan teknologi informasi”

Pengaruh Teknologi Dalam Kehidupan

Oleh : citra ayu anggaraini

Pada era globalisasi seperti yang terjadi pada saat ini , teknologi sudah menjadi salah satu unsur bagian dari kehidupan.Dimana seperti yang kita tahu bahwa kemajuan teknologi informasi seperti sekarang ini memang memberikan dampak yang sangat bearti kepada pola hidup manusia

Secara umum pengertian dari teknik informatika adalah suatu teknologi atau merupakan suatu sarana yang di gunakan untuk mengolah data,termasuk memproses,mendapatkan,menyusun,menyimpan.memanipulasi data dalam berbagai cara untuk menghasilkan informasi yang berkualitas,yaitu inrormasi yang relevan,akurat,dan tepat waktu,yang digunakan untuk keperluan pribadi,bisnis,dan pemerintahan yang merupakan informasi yang strategis untuk mengambil keputusan.

Pengaruh dari kemajuan teknologi,khususnya dari kemajuan teknologi informasi di bagi menjadi dua macam,yaitu dampak positif dan dampak negatif.semua kembali lagi pada cara manusia itu sendiri untuk berfikir dan bagaimana dia memanfaatkan kemajuan teknik informatika(TI),apakah utntuk sesuatu yang bersifst membangun manfaat(positif)atau hal-hal yang tergolong negative.

Berikut contoh dampak positif dari perkembangan dan penggunaan TIK:

Pada zaman dahulu ,jika kita ingin berkomunikasi dengan orang lain harus menggunakan surat yang dikirim melalui pos .tetapi zaman sekarang kita hanya tinggal sms,line,whatsapp,blackberry messenger,dsb.

Dulu untuk menghitung ,kita menggunakan cara manual.lalu berkembang dengan menggunakan sempoa,dan sekarang menggunakan kalkulator.

Dulu untuk melakukan transaksi jual beli (berdagang)kita harus datang ketempat,tetapi sekarang ,kita dapat menggunakan media online,kita tidak perlu bertemu face to face penjual dan pembeli.

Tak kalah pentingya kita harus tau juga dampak negative dari perkembngan TIK.

Beberapa contoh dampak negative Dri perkembangan dan penggunaan TIK:

Berkegantungan terhadap teknologi,misalkan handphone,dan itu dapat menimbulkan radiasi yang dapat membahayakan kesehatan  tubuh kecanduan akan dunia maya dapat membuat manusia menjadi pasif dalam dunia nyata .”orang yang aktif dan jago berkomunikasi di dunia maya belum tentu dapat berkomunikasi  didunia nyata sebaik ia berkomunikasi melalui dunia maya” terbiasanya pengunaan teknologi dapat membuat kita menjadi malas dan dapat mengurangi daya kemampuan diri kita contoh :dalam berhitung ,orang yang selalu menggunakan kalkulator  dalam berhitung akan kalah kemampuan nya dengan orang yang jarang mengunakan kalkulator.

Dapat menimbulkan kejahatan .contohnya:saat kita membeli barang online terkadang barang yang sampai belum tentu sama dengan apa yang kita pesan (yang diiklankan oleh penjual)

  • Jadi kesimpulan dari saya tentang pengaruh teknologi dalam kehidupan  yaitu menurut saya teknologi dalam kehidupan harus seimbang  kenapa? Karena teknologi informasi  memang sangat berperan penting bagi saya ,apalagi mahasiswi seperti saya ,jika kita dapat tugas dari dosen kita bisa mengerjakan nya dengan mudah dan kita juga bisa mengirim tugas tersebut melalui email.

Kemudian gunakan teknologi dengan cara baik dan benar ,cari lah informasi yang berguna dan bermanfaat bagi kita maupun untuk kehidupan^^ …

Sekian artikel dari saya  terimaksih ^^{}

#stkip_arrahmaniyah  Depok

 

By

SC – PIK02 Ganjil 2016/2017

No.NIMNamaSC
1168610074Helvira
2158610348Lulu Yunnistia
3158610347Hanifah
4168110026Mulyani
5168610075Hermawati
6166110027Syahrul Rohman
7166110024Citra Ayu Anggraini
8146110088Een Nuraida
9146000090Maulana Suhada
10146110094Neneng Inasiah
11158610480Supadma
12158610345Eka Suharti
13146110120Suriyeh
14158610472Anita Listiani
15146110119Sariah
161314611014Tumidi
17124120304Ayu Sri Wahyuni
181341100125Barokah
19144110058Winarni
20134110150Oktaviani
21136110136Desy Hary Yanti
22134110129Muhammad Rasyid
23154110070Anwar Surono
24126110177Nuriah
25144110057Siti Nurlatifah
26134110127Chairunnisa
27134110157Meiferizal
28144110108Tegar Setiawan
291441100138Berty Dwi Putri
30168610079Isma Aludin Hasan
31168610078Diki Apriyansah